Nasruddin Hikayat si Tukang Banyol


Nama Nasruddin Hoja sudah tidak asing lagi bagi penggemar humor sufi. Membaca lelucon-leluconnya, kita akan menemui banyak hikmah. Hidupnya bak legenda yang syarat akan keunikan. Sampai-sampai orang meragukan apakah Nasruddin pernah ada atau hanya sekedar cerita belaka.

Dalam jagat sufisme, nama Nasruddin Hoja hanya tersaingi oleh Abu Nawas. Tokoh yang kedua itu dikenal sebagai raja humor dinasti Abbasyiah. Sedangkan Nasruddin diyakini hidup pada masa Timur Lenk, atau akhir kekuasaan Abbasyiah. Riwayat hidupnyapun unik. Ada tiga versi yang menyatakan bahwa Hoja lahir dan hidup dengan tahun yang berbeda.

Orang Arab, Turki dan Mesir menyatakan bahwa Nasruddin Hoja adalah tokoh yang pernah hidup dan besar di negerinya. Bahkan ada pula yang menyatakan ada dua Nasruddin Hoja. Yang satu seorang ahli hadits. Sedangkan yang satunya ahli bikin lelucon.

Ikhwal kehidupan memang sangat jarang ditulis. Tetapi dalam kitab Lataif Nasruddin karangan Ceilak Tevfik Beik disebutkan bahwa Nasruddin mempunyai ketinggian ilmu agama. Kenyataan ini merupakan sesuatau lain. Selama ini yang sering dilupakan orang adalah tentang Nasruddin adalah kedalaman ilmunya. Orang mengenalnya hanya sebagai tukang humor. Padahal gelar khwaja atau “Hoja” merupakan bukti akan ketingggian ilmu agama dan tasawuf. Ia mempunyai banyak murid dan sebagai ahli fiqih, khususnya madzhab Hanafi. Anak didiknya lebih dari tiga ratus orang.

Banyak yang tidak percaya kalau Nasrudddin pernah hidup. Diantaranya Rene Basset, M. Harthman, dan A. Waslesky. Dalam bukunya Recherche sur de Juha, keduanya berpendapat,” Kisah-kisah aneh dan jenaka Turki ini merupakan terjemahan dari anekdot-anekdot Arab lama yang mulai tersebar pada akhir abad keempat hijrah”. Sedangkan H. Kraimsk menyatakan bahwa cerita Nasruddin hanyalah sebuah cerita rakyat semata.

Sedangkan paling meyakini bahwa Nasruddin pernah ada adalah Sastrawan Turki Hassan Affandy. Dalam karyanya Masju’ah al Maarif, disebutkan bahwa Nasrudddin adalah tokoh yang pernah hidup dan besar. Mufti kota Suri Hisar ini menulis bahwa bahwa Hoja lahir di desa Khortu, Suri Hisar tahun 605 H/1208M. Hoja tumbuh besar di desanya sampai menggantikan ayahnya sebagai imam. Pada tahun 635H atau sekitar 1237-1238 pindah ke kota Ak Shehir. Di sinilah korta ini Nasrudddin meninggal pada tahun 683H atau1285M.

Satu Riwayat dalam Tiga Versi
Ada tiga versi yang menyebutkan kehidupan Nasruddin. Pertama, versi yang hidup di wilayah Mesir. Kedua kisah hidup Nasruddin adalam versi bangsa Arab. Sedangkan yang terakhir riwayat hidup sana Mullah dalam pandangan orang-orang Turki. Masing-masing mempunyai kesamaan, yaitu rasa humor Nasruddin yang tinggi.

Nasruddin versi Mesir Perjalanan Nasruddin sebagai tokoh humor Mesir tidak kalah unik. Tidak jauh beda dengan versi Turki dan Arab, Nasruddin tetap dipandang sebagai orang bego dan tolol. Kalau ditelusuri kisahnya seiring dengan perkembangan Islam. Seperti halnya di Turki cerita-cerita aneh dan lucu muncul disaat terjadinya masa transisi. Peralihan kekuasaan memunculkan perubahan yang cepat. Begitupun di Mesir.

Walaupun tidak mempunyai akar sejarah, namanya melambung tinggi di negeri piramid itu. Ia adalah simbol seni yang melekat dalam masyarakat Mesir. Pribadi Nasruddin yang suka menyentil, menyindir dan penuh humor sangat sesuai dengan karakter orang-orang Mesir.

Cerita bergaya Nasruddin tumbuh dengan cepat di masa Dinasti Fathimi sampai Al Ayyubi. Bahkan di zaman Salahuddin Al Ayyubi muncul kitab yang isinya humor politik. Buku yang berjudul al Fasyusy fi Hukm Qaraqusy ini disusun oleh al As’ad ibn Mamaty al Mishri. Puncak dari kisah jenaka di Mesir mencapai puncaknya pada masa Dinasti Mamluk. Di zaman itu cerita-cerita Nasruddin tenar di semua kalangan. Hal tersebut tersimbolkan pada diri In Sudun atau Abu Hasan Ali Nuruddin Ibn Saudun al Yasybaghawi. Ia sering diatributkan dengan Nasruddin versi Mesir. Diwan Nuzhah al Nufus wa Mudhi al Ubus adalah karyanya anekdotnya yang terkenal.

Menurut beberapa kitab klasik Arab, ia termasuk generasi tabi’in.Tetapi riwayat hidupnya masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa Nasruddin bernama Dajin bin Tsabit. Sementara yang lain mengatakan Abu Gushn al Yarbu’i al Basri. Banyak juga yang memanggilnya Juha. Ibn An Dadzim yang menyusun kitab al Fihrits an Nawadir Juha mengatakan bahwa Nasruddin biasa dipanggil Abu Gushn. Sedangkan dalam manuskrip Natsr ad Durar fi al Muhadharat karya Al ‘Abi ditulis,” Nama Nasruddin adalah Nuh. Sedangkan nama pangilannya al Ghusnh. Ia tinggal di Kufah pada 100 H di masa Khalifah Ja’far al Mansur.”

Karena tingkah lakunya, banyak yang menggolongkan sebagai orang yang lalai. Sehingga hadits-hadits yang diriwayatkan banyak yang meragukan. Sebuah kitab abad ke VII yang berjudul ‘Uyun at Tawarikh menyatakan Dajin bin Ghushn meriwayatkan beberapa Hadits. Tetapi hal tersebut diragukan kesahihannya. Diantara yang meragukan adalah an Nasai. Sedang al Bukhori mengakui Dajin Bin Tasbit ia lah Abu Ghusnh yang dikenal sebagai periwayat hadits.

Di kitab karangan Syakir al Kurtubi ini bahkan menulis nama akrab Dajin adalah Juha. Tetapi hal tersebut dibantah oleh Asy Syirazi. Ia bahkan menyebutnya sebagai pemuda yang pintar. Dalam perkerkembangannya munculah sosok baru Nasruddin. Sebagian akar sejarahnya dari Arab yaitu Abu Dajin al Fazari. Sebagian lagi dari Turki sebagai simbol seni masyarakat. Nasruddin tetaplah menyimpan kelucuan. Lepas dari sifatnya, ia meninggalkan jejak yang luar biasa

Lebih unik lagi cerita Nasruddin versi Turki. Seperti halnya versi Arab, Nasruddin made in Turki ini mempunyai kesamaan. Ia dikenal sebagai ilmuwan yang berpikiran sehat, sufi dan jago humor. Tidak hanya itu pandai mengkritik adalah keunggulannnya yang lain. Dalam Ensiclopedia of Islam disebutkan bahwa Nasruddin hidup di zaman pemerintahan Harun al Rasyid. Sedangkan versi lain menulisnya hidup di zaman Sultan Alauddin A Thalis raja Khawarism. Ada juga yang mengatakan hidup sezaman dengan Timur Lenk, Bayazid I sampai Qarmenid II ‘Alauddin.

Terlepas dari keimpangsiurannya Nasruddin diyakini pernah hidup. Sepak terjangnya terdapat dalam kisah-kisah Hikmat Syarif Talabirizi. Diceritakan di dalam bab Nawadir Juha al Kubro bahwa tokoh ini menghabiskan sebagian hidupnya belajar di Konya dan Ak Shehir Turki. Setelah tamat diangkat menjadi hakim dan imam di Suri Hisar. Ia juga dikenal sebagai tokoh pendidikan di kota tersebut.Di dalam kitab ini juga memuat jasa Nasruddin. Disebutkan ia berhasil menyelamatkan kota Suri Hisar dari gempuran Timur Lenk.

Sufisme sangat mempengaruhi pergulatan Nasruddin. Pada abad ke tujun hijrah di wilayah Turki banyak bermunculan zawiyah. Perang dan kekerasan mempunyai andil besar lahirnya gerakan asketik ini. Disebutkan Nasruddin tumbuh di Asia Kecil yang banyak sekali aliran darwish. Tidak jarang kondisi ini sangat berpengaruh dalam beberapa anekdot atau jalan hidupnya. Sejarawan Al ‘Aqqad mengatakan, ”Diantara meraka ada yang berperilaku seperti halnya orang-orang yang sedang dalam keadaan ektase. Ada pula yang memberi fatwa, seperti halnya ahli hukum Islam. Dan ada pula yang berperilaku aneh, guna menghindarkan diri dari kebrutalan para penguasa.

Mereka ini banyak diikuti orang awam yang mempercayai kekeramatan meraka., agar dilindungi dari kekejaman dan penindasa. Para darwishpun dalam upaya mengambil hati , atau bergaul dangan para penguasa yang bobrok, menciptakan anekdot, saran yang mengena di hati,atau bergaul dengan para penguasa tersebut untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi pada saat yang sama mereka juga mampu menanamkan ketakwaan dan rasa takut kepada Allah, disamping kegembiraan dan kejenakaan.”
Waallahu a’lam.

Yang Aneh dan Lucu
Bagi yang percaya, karomah Nasruddin banyak sekali. Tidak sedikit orang meminta berkah padanya. Di Turki kisah-kisah aneh sangat dominan perihal Nasruddin ini.

Seperti para sufi lainnya, kekeramatannya masih dipercaya hingga kini. Orang Turki percaya, nasib malang akan menimpa pada semua orang harus tersenyum atau tertawa di makam Nasruddin. Kebiasaan masyarakat kalau lewat makam Nasruddin membaca surat Fatihah dan tersenyum.

Pada suatu hari serombongan keuarga lewat di makam Nasrudddin di Anatolia dengan kereta. Dianatara penumpangnya memandang remeh makamnya. Dengan sombong ia berkata, “Aku tidak akan tersnyum.” Tidak lama kemudian kereta yang ditumpanginya menabrak pohon. Semua penumpangnya terpental dari kereta.

Penduduk kota Ak Shehir mempunyai adat kebiasaan. Apabila merka akan menikah sebaiknya pergi ke makam Nasruddin. Dan kemudian mengundangnya ke perkawinan mereka. Cara mengundangnyapun unik. Dua sejoli itu harus mengatakan,” Merupakan kehormatan bagi kami menjadi salah seorang muridmu.” Penduduk mempunyai keyakinan, apabila tidak dilaksanakan perkawinan tidak langgeng.

Ketika berkunjung ke makamnya orang akan tersenyum. Di dinding makamnya terukir sajak maupun prosa. Tidak hanya itu, gantungan rajah banyak guna mengharapkan berkahnya. Apa yang dikemukakan seorang penulis Turki Ziya Beik ada benarnya. Ia mengatakan,” Suatu sat aku mengunjungi makam Mulla Nasruddin Hoja di Ak Sheir. Pada nsian Makamnya terdapat tulisan, “ Ini makam bagi seorang yang mengharap rahmat Tuhannya, Nasruddin Afandi. Bacaan Fatihah baginya. Ia meninggal pada tahun 386H.” Aku terheran dengan tahun kematiannya . Sebab setahuku ia meninggal setelah tahun 386 H. Tetapi akhirnya aku tahu, tahun kewafatan tersebut harus dibaca secara terbalik. Jadi benar ia meninggal tahun 683 H. Aku tidak tahu apakah hal ini terjadi karena ketololan seorang penulisnya atau kesengajaaan untuk melucu.”

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Artikel yang menarik ;)
saya juga suka baca2 humornya Nasruddin/Abu Nawas :)

hafidzi mengatakan...

suka nulis cerpen ya? religi...suka...

terus ya Mas

Noonathome mengatakan...

Kisah2 Nasruddin Hoja jaman sebelum 80-an pernah seringkali dimuat di majalah Kawanku (ya, ini Kawanku yang jadul, bukan yang jaman sekarang).